Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Ditulis pada 20 Juni 2017 , oleh admin keperawatan , pada kategori Agenda Kegiatan, Pengumuman, Berita

MAHASISWA JURUSAN KEPERAWATAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MENGIKUTI PROGRAM ASIA STUDENT SUMMIT 2017 DI KOREA SELATAN

 Menurut informasi yang kami ambil dari http://youtex.org/asia-student-summit-2017-gathered-58-youth-leaders-in-seoul-south-korea/; program ASIAN STUDENT SUMMIT  ini diinisiasi oleh Indonesia Global Network, sebuah organisasi pemuda yang berbasis di Indonesia yang telah dilaksanakan pada 10-14 Mei 2017 di Seoul, Korea Selatan. Sebanyak 58 delegasi mengikuti acara ini. Program Asia Student Summit ini merupakan yang kali kedua  dilaksanakan setelah pada tahun sebelumnya dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 15-19 Agustus 2016.

Tema Asia Student Summit 2017 adalah “Developing the Next Generation of Leaders in Asia” yang bertujuan untuk mengakomodasi ide dari pemuda-pemuda Asia dan menjadikan sebagai sarana bagi pertukaran pengetahuan terkait sistem edukasi, belajar di luar negeri, maupun pertukaran budaya. Selama program, delegasi mengikuti berbagai macam aktifitas yang berguna bagi pengembangan diri mereka.

Salah satu aktifitas dari program ini adalah Campus Visit ke Seoul National University dan Kyung Hee University. Selama kunjungan, delegasi dipandu oleh perwakilan dari kampus. Disamping kunjungan, pemandu juga menjelaskan kepada delegasi terkait kehidupan mahasiswa, pendaftaran masuk ke kampus, maupun kesempatan beasiswa. Selain Campus Visit, aktifitas lainnya adalah Study Abroad Survival Class, City Challenge, Focus Group Discussion and Group Presentation, dan Culture Performance.

Salah satu peserta yang berhasil menjadi partisipan dalam program kali ini berasal dari Jurusan Keperawatan Universitas Brawijaya, Fatika Maulidyah Yuwanto. Tentunya hal ini patut menjadi banggaan Institusi.

Mahasiswa berprestasi inipun mengungkapkan cerita motivasinya yang perlu dibaca dan dipahami oleh pemuda pemudi yang memiliki semangat dalam membangun bangsa ini menuju ke hal yang lebih baik. Berikut ulasan kegiatan yang ditulis langsung oleh Fatika Maulidyah Yuwanto pada saat berada di Korea Selatan.

Hari Pertama (Rabu, 10 Mei 2017)

Jadwal pendaratan saya di Bandara Internasional Incehon pukul 08.00 pagi waktu Korea. Setelah itu, Saya masih harus mengurus berkas-berkas keimigrasian dan pengambilan bagasi  kurang lebih sekitar 1,5 jam. Saat itu, Panitia kegiatan yang bertugas sudah menunggu kedatangan delegasi di Hall kedatangan, kebetulan saat itu saya ada di kloter penjemputan gelombang  2. Pada saat penjemputan tersebut, panita juga membagikan T-Money yang akan kami gunakan untuk mengakses transportasi publik di Seoul. Setelah semua delegasi kloter penjemputan gelombang  2 lengkap, sekitar pukul 11.00 kami bergegas berangkat ke Hotel Ibis Insadong. Waktu tempuh dari Bandara Internasional Incehon ke Hotel sekitar 1,5 jam, 45 menit menggunakan AREX (Airport Railway Express) dan Seoul Metropolitas Subway dan 30 menit jalan kaki. Setibanya di Hotel, kami di wajibkan untuk melakukan registrasi ulang,mengambil kunci kamar dan Kit Delegasi. Karena agenda utama baru dimulai sekitar pukul 07.00 malam, saya memanfaatkannya untuk beristrirahat sejenak. Agenda utama adalah “welcoming dinner” atau dalam bahasa Korea di sebut Sogalbi gui (갈비구이) di restoran Kum Gang San. Di agenda tersebut selain kami berkenalana satu sama lain, para delegasi dibagi menjadi 6 tim, masing-masing grup akan diberi topik diskusi yang nantinya akan di presentasikan di hari terakhir acara Asia Student Summit, saat itu saya berada di grup 3 dan mendapatkan topik Korean Lifestyle. Di sana kami juga memainkan beberapa permainan kelompok yang semakin menambah keakraban tim. Sebelum Kami kembali ke hotel, panitia mengumumkan agenda untuk keesokan harinya.

Hari Kedua ( Kamis, 11 Mei 2017)

Hari kedua kami habiskan dengan mengunjungi dua kampus terbaik di Korea yaitu Seoul National University (SNU) dan Kyung Hee University (KHU) dan seminar Survival Abroad Class.Kunjungan pertama di Kyung Hee University, kami di jelaskan mengenai akitivitas mahasiswa, fasilitas yang tersedia, jurusan yang ada oleh Miss Dory (mahasiswa S2 di bidang Pariwisata), selain itu beliau juga menjelaskan bahwa Kyung Hee merupakan kampus private research-based universities terbaik di Korea Selatan. Kyung Hee University juga menawarkan berbagai program pendidikan seperti scholarship program, undergraduate program, graduate program, international student program, international faculty program, summer school dan lain lain.

Kunjugan selanjutnya adalah Seoul National University. Kali ini, kami dipandu oleh Minhong Joo sebagai Student Ambasador (mahasiswa S1 di bidang International Studies). Penjelasan yang diberikan tidak jauh berbeda dengan penjelasan pada kunjungan di Kyung Hee University, yaitu seputar akitivitas mahasiswa, fasilitas yang tersedia, jurusan  dan program studi yang tawarkan. Namun sedikit perbedaan penjelasan pada saat kami di SNU, disana terdapat tempat konseling bagi mahasiswa asing (terutama mahasiswa yang sulit beradaptasi dengan lingkungan baru), pusat kebudayaan, sexual harassment centers bagi mahasiswa yang pernah mengalami sexual abuse dilingkungan kampus, disekitar area perpustakaan utama kampus. Menariknya, disini juga terdapat Volunteer grup yang disebut SNU Buddy yang bertujuan untuk membantu mahasiswa asing membagun hubungan dengan mahasiswa korea, sehingga mereka lebih mudah untuk berteman dan beradaptasi.

Sebelum melanjutkan ke agenda Survival Abroad Class, kami makan siang terlebih dahulu. Menu yang disediakan saat itu adalah makanan tradisional yaitu bibimbap (nasi campur) dan minuman tradisional yaitu sikhye (sari beras). Di Korea, setiap makanan yang disajikan memiliki banyak side-dish termasuk makan siang kami kali ini, seperti kimchi, sup bawang, salad, and any sayur rebus yang ditaburi wijen. Setelah makan siang selesai, semua delegasi menuju ke HOAM Faculty House untuk mengikuti Survival Abroad Class. Agenda kali ini dibawakan oleh dua pembicara yaitu Aulia Djunaedi dan Ria Aryani Hayuningtyas. Pembicara pertama, Aulia Djunaedi. Beliau merupakan pendiri “Hana Simple Education” dan “Thokkiso Story Open Tour“. Pada pembahasan awal terdapat dua sub topik yaitu Abroad Survival Skill and Change Management. Beliau bertahan hidup di Korea Selatan selama 15 tahun, sejak kuliah hingga saat ini. Banyak sekali pasang surut kehidupan yang telah beliau alami, pengalaman terberat beliau terjadi pada tahun 2011 saat beliau mengerjakan thesis. Dana yang di gunakan untuk mengerjakan thesis saat itu tidaklah murah, beliau harus merogoh kocek sekitar 200,000 won persheet. Kata-kata beliau yang saya ingat sampai saat ini adalah “Kita harus mampu berdiri diatas kaki sendiri, apapun yang terjadi. Namun, jangan lupa, Tuhan juga harus kita libatkan dalam setiap langkah kita”. Kami juga banyak belajar dari beliau tentang cara berbagi dan saling peduli, membangun koneksi pertemanan, dan bagaimana bersikap di lingkungan jika kita hidup di Korea.

Pembicara kedua adalah, seorang dokter gigi muda asal Universitas Indonesia yang saat ini melanjutkan studi S2 nya di bidang Medical Sciences di Yonsei University dengan jalur beasiswa KGSP (Korean Government Scholarship Program), beliau adalah Ria Hayungingtyas. Selain kuliah, beliau juga memiliki banyak sekali kegiatan seperti menjadi salah satu anggota bidang Akademik di PERPIKA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Korea). Kemampuannya berbicara beliau yang energik dan luwes mampu menggiring kami untuk menikmati materi “Self Preparation for Study Aboard” dengan lebih menyenangkan. Dari materi ini, saya mendapatkan banyak sekali informasi serta tips & trick untuk medapatkan beasiswa di luar negeri. Salah satu kunci utama adalah kemampuan penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, selain itu kita juga harus mengetahui dan menelusuri universitas tujuan kita (salah satunya dengan mengecek di QS University Rank), cara mendapatkan surat rekomendasi dari Profesor di universitas yang akan kita tuju. Beliau juga berpesan, jika suatu saat nanti kita ada di luar negeri dalam jangka waktu yang lama agar tetap menjaga identitas kita sebagai warga negara Indonesia, namun kita juga harus tetap menghargai kebudayaan lokal dimana kita tinggal.

Agenda di hari kedua ditutup dengan sesi foto bersama seluruh delegasi, panitia dan pemateri. Setelah itu, panitia memberikan kami T-money yang telah di isi ulang dan membebaskan kami untuk mencari makan malam khas korea. Kami juga bebas memilih untuk kembali ke hotel atau menikmati suasana Seoul di malam hari. Panitia juga berpesan agar kembali sebelum jam operasi subway berakhir, yaitu jam 12 malam. Akhirnya saya dan tim memilih untuk pergi menikmati suasana ke distrik Gangnam sebelum bertolak ke hotel.

Hari Ketiga (Jumat, 12 Mei 2017)

Kampus terakhir yang kami kunjungi adalah Yonsei University. Selain kunjungan kampus, pada hari ini kami memiliki agenda yang cukup menyenangkan yaitu  City Challenge. Sekitar pukul 08.00 pagi kami berangkat dari hotel menuju ke Yonsei university dari stasiun Jongno sam  (3)-ga. Letak kampus Yonsei ini cukup strategis, karena berada di pusat ekonomi, politik, dan budaya di Seoul. Sesampainya di sana kami disambut oleh Student Ambassador bernama Lauren Cho. Dari penjelasan Lauren, kami dapat menyimpulkan bahwa Yonsei University merupakan universitas tertua dan terbaik ke tiga yang ada di Korea Selatan. Penjelasan Lauren juga hampir sama dengan penjelasan pada kunjungan kampus sebelumnya yaitu mengenai akitivitas mahasiswa, fasilitas yang tersedia, jurusan  dan program studi yang tawarkan. Namun, keunikan yang dipaparkan adalah mengenai sejarah kampus ini. Yonsei memiliki cerita panjang yang cukup unik untuk di ketahui. Didalam kampus terdapat replika bangunan yang memang di khususkan untuk mengenang sejarah pengobatan yang berkembang di Korea Selatan. Bangunan tersebut sengaja di bangun di belakang Rumah Sakit Kanker Yonsei yang megah. Saya juga sempat bertanya tentang sistem pendidikan Keperawatan di sana, ternyata tidak berbeda jauh untuk waktu studi yang harus di tempuh di jenjang S1. Selain itu, Lauren juga menjelaskan tentang sejarah panjang bangunan utama (semacam gendung rektorat) yang menjadi saksi sejarah sejak perang dunia ke 2 yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Agenda paling di tunggu adalah City Challenges. Setelah kunjungan kampus di Yonsei kami malaksanakan sholat dhuhur dan jumat di masjid raya Seoul yang terletak di daerah Itaewon. Itaewon merupakan daerah militer sekaligus daerah yang padat oleh pendatang dari daerah Asia lainnya dan Timur tengah. Sehingga di sini kami sangat mudah menemukan restoran halal, mulai dari restoran khas korea selatan yang halal sampai makanan ala timur tengah. Setelah sholat, kami di bebaskan kembali untuk memilih makanan yang tersedia di Itaewon, Sehingga saat itu saya memilih makan di Eid Restauran (sebelum ke Korea Selatan saya sudah mereview restoran ini) bersama ke 7 teman-teman saya. Sayang, di restauran tersebut hanya tersedia 4 makanan khas korea yaitu Beef Bulgogi, Samgyetang (Chicken ginseng soup), Jjimdak (braised chicken) dan Galbitang (short rib soup). Akhirnya kami memutuskan memesan semua menu dan memakannya bersama sama (patungan), karena porsi makanan yang cukup banyak.

Kenyang sudah perut kami. Selanjutnya kami, kembali ke titik kumpul untuk mendengarkan arahan dari panitia. Dengan uang jumlah uang yang telah di tentukan oleh panitia (saya lupa nominalnya), setiap tim diberikan tantangan untuk menyelesaikan misi yang harus di temukan di lokasi-lokasi tertentu. Lokasi yang harus kami kunjungi adalah Istana Gyeongbokgung dengan misi berfoto dengan bule non Asia yang memakai hanbok, ke Museum Rakyat Korea untuk mencari tahu ada apa didalam sana, Foto terunik di Bukchon Hanok Village dan Tujuan terakhir adalah Namsan Tower, dimana kami harus sampai di Namsan Tower sebelum pukul 7 malam. Saat itu, tim kami di temani oleh mahasiswa Korea Selatan bernama Cho Hyun Wa atau lebih akrab di panggil Yuna (mahasiswa Hankuk University of  Foreign Study). Yuna sangat tertarik sekali dengan Indonesia dan Bahasanya, bahkan dia bercita-cita untuk bekerja di perusahaan Korea Selatan yang ada di Indonesia.

Hari ketiga merupakan hari paling melelahkan karena kami lebih banyak jalan kaki Meskipun ritual naik-turun eskalator dan tangga, transfer dari jalur subway satu ke jalur lainnya dan ditambah lagi dengan jalanan di Seoul yang rata rata menanjak, benar-benar pada hari tersebut tenaga kami terkuras habis. Namun pada hari tersebut juga indah untuk selalu dikenang.

Hari Keempat (Sabtu, 13 Mei 2017)

Meskipun ritual naik-turun eskalator dan tangga, transfer dari jalur subway satu ke jalur lainnya tetap ada di hari ini, namun setidaknya agenda hari ini kami hanya duduk di dalam ruangan Seoul Global Cultural Center untuk melaksanakan presentasi grup, Student Summit Seminar dan cultural performance oleh delegasi. Tim kami mempresentasikan topik tentang Korean Lifestyle. Selama 4 hari kami berada di Seoul, banyak sekali gaya hidup yang menurut kami sangat berbeda, khas dan baru. Menurut pengamatan kami, masyrakat Korea sangat memperhatikan penampilan meraka, terbukti dengan banyaknya produk-produk kecantikan yang menjamur di pinggir jalan, serta tak ketinggalan cara berpakaian mereka juga selalu Eye Catching. Jarang sekali, kami menemukan wanita muda Korea yang memiliki rambut alami dan tanpa make up, rata-rata mereka suka menggunakan perona bibir dengan warna-warna berani, eye shadow dengan warna orange atau pink yang menghiasi kelopak mata dan tak ketinggalan eye liner untuk mempertegas garis mata. Sedangkan untuk pemuda laki-laki lebih sering menggunakan setelah jas yang rapi dan potongan rambut yang kekinian. Budaya meminum soju (arak tradisional korea) juga merupakan salah satu hal baru bagi kami. Minuman ini bersifat memabukkan. Namun, di budaya korea jika ada seseorang menawari minum soju pada jamuan makan, maka tawaran tersebut harus di terima. Jika tidak maka, kita dianggap tidak sopan sama sekali (Untungnya dengan saya memakai kerudung, saya terlindung dari tawaran meminum soju). Tipikal individulistis yang tinggi pada masyarakat korea juga tak luput dari pengamatan kami. Maklum saja, mereka mempunyai standar tinggi (penampilan, pendidikan, pekerjaan dll) yang harus di capai sehingga masing masing orang berfokus pada tujuannya. Namun, meskipun mereka individualistik, mereka tetap dengan sepenuh hati membantu jika diminta untuk membantu dan tetap menjaga adat dan sopan santun.

Seusai mempresentasikan hasil pengamatan tim, agenda berlanjut ke Student Summit Seminar yang membahas entrepreneurship, leadership, and culture yang dibawakan oleh 3 orang pembicara yaitu Michael Firnandus, Craig La Touche, and Nichola Gwon. Pembicara pertama adalah Michael Firnandus seorang yang membawakan materi entrepreneurship dengan tema “Youth Building Business: Where to Start?”. Beliau adalah Co-Founder dan Cto at Team Mondrian, Penulis di 5 publikasi dibidang Computing and Information Management dan Engineering. Poin penting yang saya dapatkan dari materi ini adalah jika kita ingin memulai usaha kita harus berani mengambil resiko dan jangan berharap terlalu tinggi, selain itu kita juga harus mencari sesorang yang profesional, berkomitmen dan dapat dipercaya sebagai partner kerja dan terakhir beliau juga memberikan kata motivasi kepada kami “Use your time and make a big network”. Materi kedua yang bertema “The Perks of Living Abroad for the Global Thinking and Leadership” dibawakan oleh Craig La Touche seorang warga kebangsaan Irlandia yang saat ini menjabat sebagai CEO di JobFinder, sebuah platform pencarian kerja bagi pekerja migran. Sampai saat ini beliau sudah menjelajahi 75 negara. Pengalaman beliau yang inspirasional tersebut ternyata secara tidak langsung telah membuat beliau semakin banyak belajar, bekerja lebih keras dan menumbuhkan jiwa kepemimpinannya hingga beliau memiliki keberanian untuk memulai sebuah bisnis. Menurut beliau, seorang pemimpin harus memiliki 3 hal yaitu mata dan telinga yang harus selalu terbuka yang berarti kita harus mampu menganalisa permasalahan yang ada di sekitar kita dan mampu menerima masukan dari orang lain; beraksi dan berani menghadapi tantangan sebagai media untuk berkembang. Materi ketiga yang bertema “Cultural Diversity: Broaden Mind, Enrich Experience” disampaikan oleh Nichola Gwon seorang kreator  Nicholalala Webtoon di LINE Webtoon. Beliau adalah warga negara Australia yang menikah dengan warga negara Korea Selatan. Saat ini, bersama dengan suaminya beliau sering membuat komik tentang perbedaan budaya dan interaksi yang unik karena perbedaan tersebut. Poin penting dalam bahasan kali ini adalah budaya adalah sesuatu hal yang harus kita jaga dan kita junjung tinggi, dengan budayapun kita dapat memperluas sudut pandang kita. Beliau juga mengatakan bahwa kita harus menerima semua perbedaan yang ada, karena dengan adanya sikap teresbut perbedaan apapun akan menjadi indah dan harmonis. Menjelang sore, sesi seminar pun usai. Sebagai agenda penutup delegasi Asia Student Summitpun mempersembahkan penampilan budaya (puisi, tarian tradisional dan lagu daerah) di hadapan delegasi lainnya yang tidak tampil,pembicara, panitia dan tamu undangan yang terdiri dari mahasiswa Korea Selatan, mahasiswa dari negara lain (Amerika), perwakilan PERPIKA, pejabat dari Kedutaan besar Indonesia di Korea Selatan. Asia Student Summit 2017 resmi ditutup dengan rangkaian foto bersama seluruh hadirin yang saat itu berada di Seoul Global Cultural Center.

Hari Keempat (Minggu, 14 Mei 2017)

            Pagi-pagi sekali saya sudah harus packing ulang dan membersihakan semua barang-barang bawaan saya yang ada di dalam kamar hotel, karena hari ini kami di jadwalkan untuk melakukan check out maksimal pada pukul jam 11 siang. Sebelum kami melakukakn check out kami sarapan terlebih dahulu. Selanjutnya, panitia memberikan T-money yang telah di isi ulang dan mengantar delegasi yang harus pulang ke Indonesia pada hari tersebut ke Bandara Internasional Incheon. (Penulis: Fatika; Editor: Nurona).